
Fluktuasi iklim berpengaruh langsung terhadap pembentukan tandan buah kelapa sawit. Perubahan curah hujan, suhu, dan radiasi matahari dapat mengganggu diferensiasi bunga, menurunkan fruit set, dan mengurangi bobot tandan buah segar (TBS).
SPIRAL-Satu musim kering yang terjadi hari ini bisa berdampak pada produksi sawit hingga dua tahun ke depan. Karena proses pembentukan bunga dan tandan berlangsung jauh sebelum panen, perubahan iklim yang tampak sementara dapat meninggalkan efek jangka panjang terhadap hasil kebun.
Produktivitas kelapa sawit sangat bergantung pada kestabilan iklim. Perubahan curah hujan, suhu, dan intensitas cahaya memengaruhi proses pembentukan bunga hingga perkembangan tandan buah segar (TBS). Dampaknya tidak langsung terlihat, karena respons tanaman baru muncul sekitar 6–24 bulan setelah periode stres.
Kajian terbaru oleh Ahmed Abubakar dan rekan-rekannya pada 2023 menunjukkan bahwa kenaikan suhu, pola hujan yang tidak menentu, serta kejadian cuaca ekstrem dapat menurunkan fotosintesis, mengganggu penyerbukan, dan meningkatkan risiko gugur bunga betina. Kondisi ini pada akhirnya menurunkan jumlah tandan dan bobot buah yang dihasilkan.
Kekeringan menjadi ancaman utama karena sawit membutuhkan ketersediaan air yang relatif stabil sepanjang tahun. Saat defisit air terjadi, tanaman mengurangi pertumbuhan dan memprioritaskan kelangsungan hidup, sehingga pembentukan tandan terganggu. Sebaliknya, curah hujan berlebih dapat mengurangi radiasi matahari dan menekan aktivitas serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus.
Baca Juga: Peran Legume Cover Crop (LCC) dalam Meningkatkan Kesehatan Tanah Sawit dan Menekan Biaya Pupuk
Untuk mengurangi risiko tersebut, perusahaan perkebunan menerapkan konservasi air dan tanah, penataan pelepah sebagai mulsa, pemupukan berimbang, dan pemantauan data iklim secara rutin. Penggunaan varietas yang lebih toleran terhadap kekeringan juga semakin penting di tengah perubahan iklim.
Bagi industri sawit, adaptasi iklim bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dengan pengelolaan yang tepat, dampak cuaca ekstrem terhadap pembentukan tandan dapat ditekan, sehingga produktivitas tetap terjaga dan keberlanjutan usaha semakin kuat.
Sumber
Abubakar, A., et al. (2023). Navigating Climate Challenges: Unraveling the Effects of Climate Change on Oil Palm Cultivation and Adaptation Strategies; Frontiers in Sustainable Food Systems (2025).

