
Artikel ini mengulas peran Legume Cover Crop (LCC) sebagai solusi alami dalam meningkatkan kesehatan tanah dan menekan biaya pupuk di perkebunan kelapa sawit. LCC mampu memfiksasi nitrogen dari atmosfer melalui simbiosis akar dengan bakteri Rhizobium, sehingga mengurangi ketergantungan pada pupuk nitrogen sintetis. Selain itu, LCC efektif mengendalikan erosi, menekan pertumbuhan gulma, menjaga kelembaban tanah, serta memperbaiki struktur dan kualitas tanah. Penerapan LCC merupakan strategi berkelanjutan yang memberikan keuntungan ganda: menjaga produktivitas lahan dan memangkas biaya operasional secara signifikan.
SPIRAL-Legume Cover Crop (LCC) adalah "pemain pendiam" yang sering luput dari perhatian namun memiliki efek dahsyat bagi kebun sawit. Tanaman dari kelompok kacang-kacangan ini ditanam khusus untuk menutupi permukaan tanah, menjaga struktur tanah, memperbaiki kandungan hara, hingga mencegah erosi. Lebih dari itu, LCC terbukti mampu menekan biaya pupuk secara signifikan.
Kunci keunggulan LCC terletak pada hubungan simbiosis akarnya dengan bakteri Rhizobium. Huda (2010) menjelaskan bahwa bintil akar yang terbentuk dari simbiosis ini mampu memfiksasi atau menangkap nitrogen bebas dari atmosfer. Nitrogen yang ditangkap kemudian menjadi tersedia di dalam tanah sebagai unsur hara esensial bagi pertumbuhan kelapa sawit. Proses alami inilah yang memungkinkan pengurangan penggunaan pupuk nitrogen sintetis hingga setengah dari dosis biasa.
Baca juga: Mengapa Pemupukan Kelapa Sawit Itu Penting? Ini Alasannya
Manfaat LCC tidak hanya itu. Sebagai tanaman penutup tanah, LCC ibarat karpet alami yang melindungi tanah dari penyinaran langsung sinar matahari serta tetesan air hujan, sehingga kelembaban tanah tetap terjaga. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Utara (2015) menyatakan bahwa sistem perakaran LCC yang kuat sangat efektif mengendalikan erosi, mengurangi aliran permukaan, dan menekan pertumbuhan gulma berbahaya. Dengan tertekannya gulma, biaya pembelian herbisida pun dapat ditekan.
Ginting (2024) dalam penelitiannya di lahan sawit eks tambang batu bara menegaskan bahwa penanaman LCC secara nyata mampu memperbaiki kualitas tanah, menekan serangan hama, menghambat erosi, dan meningkatkan efisiensi siklus hara. Ketika tanaman kelapa sawit sudah berusia lebih dari 5 tahun, pelepah sawit akan menutupi sinar matahari. LCC yang ternaungi kemudian akan mati dan membusuk menjadi bahan organik, berperan sebagai pupuk hijau yang semakin menyuburkan tanah (BPTP Sumatera Utara, 2015).
Baca juga: Call for Paper Riset Kelapa Sawit Resmi Dibuka, Total Hadiah Rp100 Juta
Beberapa jenis LCC yang populer dan terbukti efektif adalah Mucuna bracteata, Centrosema pubescens, Pueraria javanica, dan Calopogonium mucunoides. Di antara semuanya, Mucuna bracteata menjadi andalan utama. BPTP Sumatera Utara (2015) mencatat bahwa Mucuna bracteata memiliki keunggulan berupa pertumbuhan yang super cepat, sangat toleran terhadap naungan, kemampuan memfiksasi nitrogen yang tinggi, serta daya tutup tanah yang sangat baik hingga mampu mengurangi erosi permukaan tanah secara signifikan.
Penerapan LCC adalah investasi jangka panjang yang memberikan keuntungan ganda: menjaga kesehatan tanah dan memangkas biaya operasional. Dengan manfaat yang begitu besar, tidak heran jika tanaman ini menjadi komponen wajib dalam praktik perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, sesuai dengan prinsip Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang mendorong pengurangan input pupuk sintetis demi menjaga kelestarian lingkungan
Referensi
BPTP Sumatera Utara, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. (2015). Mucuna bracteata: Tanaman Penutup Tanah untuk Perkebunan Sumatera Utara. Kementerian Pertanian.
Ginting, E. R. (2024). Pengaruh Penanaman Legume Cover Crop (LCC) Mucuna bracteata terhadap Kualitas Tanah pada Lahan Reklamasi Tambang Batubara [Tesis D3, Institut Teknologi Sains Bandung].
Huda, A. N. M. (2010). Pertumbuhan Mucuna bracteata pada Berbagai Dosis Pupuk Hayati di Kelapa Sawit Belum Menghasilkan [Skripsi, Universitas Sumatera Utara]. Repositori USU.