
Suhu panas yang terasa di perkebunan kelapa sawit berkaitan dengan struktur vegetasi dan banyaknya radiasi matahari yang mencapai permukaan. Artikel ini membahas lebih lengkap tentang ini
SPIRAL-Berada di tengah perkebunan kelapa sawit saat siang maupun maupun malam hari memberikan sensasi panas yang cukup kuat. Meski dipenuhi pepohonan hijau, area di bawah tajuk sawit bisa terasa terik, terutama ketika sinar matahari langsung mencapai tanah dan vegetasi di sekitarnya tidak terlalu rapat.
Kondisi tersebut ternyata berkaitan erat dengan struktur vegetasi. Salah satu penelitian terbaru berjudul “Changes in Leaf Area Index by Tropical Forest Transformation to Plantations Increase Below-Canopy Surface Temperatures” yang diterbitkan dalam Global Ecology and Conservation pada 2024 mengkaji fenomena tersebut di dataran rendah Sumatra.
Penelitian yang dilakukan oleh Pallavi, Alexander Röll, Isa Marques, Delima Nur Ramadhani, Alejandra Valdes-Uribe, Hendrayanto, dan Dirk Hölscher ini membandingkan 132 plot yang terdiri atas hutan, semak, perkebunan karet, dan perkebunan kelapa sawit.
Baca Juga: Berapa Banyak Buah yang Dihasilkan Satu Pohon Sawit?
Hasilnya cukup menarik. Peneliti menemukan bahwa leaf area index (LAI), yaitu ukuran yang menggambarkan kepadatan permukaan daun, jauh lebih tinggi di hutan dibandingkan perkebunan sawit. Ketika LAI berkurang satu unit, suhu permukaan tanah di sekitar tengah hari meningkat sekitar 0,95°C.
Perbedaannya juga terlihat pada benda yang digunakan pekerja di lapangan. Suhu permukaan hijab berwarna cokelat muda rata-rata sekitar 4°C lebih tinggi di perkebunan sawit dibandingkan hutan. Temuan ini menunjukkan bahwa kepadatan tajuk berpengaruh terhadap seberapa banyak radiasi matahari yang mencapai permukaan di bawahnya.
Namun, panas di perkebunan sawit tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon sawit. Umur tanaman, kerapatan tajuk, vegetasi bawah, dan keberadaan tanaman lain juga dapat mengubah kondisi mikroklimat.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian berjudul “Microclimate and Land Surface Temperature in a Biodiversity Enriched Oil Palm Plantation” oleh Laura Somenguem Donfack, Alexander Röll, Florian Ellsäßer, Martin Ehbrecht, Bambang Irawan, Dirk Hölscher, Alexander Knohl, Holger Kreft, Eduard J. Siahaan, Leti Sundawati, Christian Stiegler, dan Delphine Clara Zemp. Penelitian yang diterbitkan di Forest Ecology and Management tersebut menunjukkan bahwa kompleksitas struktur vegetasi dan penanaman pohon tambahan dapat memengaruhi mikroklimat serta suhu permukaan di perkebunan sawit.
Artinya, tidak tepat jika panas di perkebunan sawit hanya disebabkan oleh keberadaan tanaman sawit. Yang terjadi jauh lebih kompleks. Ketika tajuk lebih terbuka, lebih banyak sinar matahari mencapai permukaan tanah dan benda-benda di sekitarnya.
Karena itu, menjaga vegetasi bawah dan menciptakan struktur kebun yang lebih beragam bukan hanya berkaitan dengan keanekaragaman hayati. Kondisi tersebut juga dapat membantu membentuk lingkungan mikro yang lebih teduh dan mengurangi paparan panas berlebih.
Pada akhirnya, rasa panas yang muncul di perkebunan sawit merupakan hasil interaksi antara cahaya matahari, struktur tajuk, tanah, air, dan seluruh vegetasi di dalam kebun. Sawit bukan satu-satunya penyebab. Cara sebuah perkebunan dikelola juga ikut menentukan bagaimana panas terasa di dalamnya.
Referensi
Donfack, L. S., Röll, A., Ellsäßer, F., Ehbrecht, M., Irawan, B., Hölscher, D., Knohl, A., Kreft, H., Siahaan, E. J., Sundawati, L., Stiegler, C., & Zemp, D. C. (2021). Microclimate and land surface temperature in a biodiversity enriched oil palm plantation. Forest Ecology and Management, 497, 119480. https://doi.org/10.1016/j.foreco.2021.119480.