
Perbedaan kondisi tanah dan ketersediaan unsur hara dapat memengaruhi pertumbuhan serta produktivitas kelapa sawit, bahkan dalam satu hamparan perkebunan. Penelitian Sembiring et al. (2024) memanfaatkan citra Sentinel-2A untuk membantu mengidentifikasi status hara pada perkebunan sawit rakyat di Kabupaten Siak, Riau.
SPIRAL-Tidak semua bagian kebun sawit bekerja dengan cara yang sama. Meski berada dalam satu hamparan dan yang sama, kebutuhan tiap bagian lahan bisa berbeda. Ada area yang mampu menyediakan unsur hara dengan baik, sementara area lain justru membuat tanaman harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan nutrisi.
Masalahnya, perbedaan itu sering kali tidak terlihat dari permukaan.
Daun yang tampak hijau belum tentu berarti kondisi tanaman sepenuhnya ideal. Begitu pula tanah yang terlihat sama belum tentu memiliki kandungan hara yang sama. Untuk mengetahui kondisi tersebut, pengelola kebun biasanya membutuhkan pengambilan sampel dan analisis di laboratorium.
Kini, ada cara lain yang dapat membantu melihat gambaran kebun dari sudut yang berbeda: satelit.
Salah satu penelitian yang menarik datang dari Wildan Kahfi Sembiring, Hariyadi, Edi Santosa, dan Heru Sukoco melalui penelitian berjudul “Penentuan Status Hara Daun pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat”. Penelitian yang diterbitkan pada 2024 di Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab memanfaatkan citra Sentinel-2A untuk membantu mengetahui kondisi tanaman pada perkebunan sawit rakyat di Kabupaten Siak, Riau.
Hal yang menarik, peneliti tidak hanya mengandalkan gambar satelit. Informasi dari citra tersebut dibandingkan dengan data hasil analisis daun dan tanah. Dari sana, terlihat bahwa kondisi hara antarwilayah memang tidak sama.
Beberapa lokasi menunjukkan defisiensi nitrogen. Kekurangan kalium juga ditemukan pada lokasi tertentu, yaitu Dayun dan Kandis 2. Artinya, meskipun seluruh area sama-sama ditanami sawit, kebutuhan pengelolaannya tidak selalu identik.
Di sinilah pemetaan digital menjadi penting.
Bayangkan sebuah kebun yang luas dibagi menjadi beberapa zona berdasarkan kondisi tanaman dan lahannya. Pengelola tidak lagi hanya melihat kebun sebagai satu hamparan besar, tetapi dapat mencari bagian-bagian yang menunjukkan kondisi berbeda.
Pendekatan seperti ini dapat membantu menentukan lokasi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Pemupukan pun berpeluang dilakukan secara lebih terarah, bukan semata-mata berdasarkan perlakuan yang sama untuk seluruh area.
Namun, teknologi satelit bukanlah pengganti analisis tanah. Data lapangan tetap diperlukan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam tanah dan jaringan tanaman.
Justru, kekuatan pendekatan ini terletak pada kombinasi keduanya. Sampel memberikan informasi detail, sementara teknologi digital membantu melihat gambaran yang lebih luas.
Ke depan, cara seperti ini dapat membuat pengelolaan perkebunan sawit semakin berbasis data. Sebab, semakin luas kebun yang dikelola, semakin penting pula kemampuan untuk mengetahui bahwa tidak semua tanah membutuhkan perlakuan yang sama.
Referensi
Sembiring, W. K., Hariyadi, Santosa, E., & Sukoco, H. (2024). Penentuan status hara daun pada perkebunan kelapa sawit rakyat. Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab, 6(2), 11–17. https://doi.org/10.35941/jatl.6.2.2024.14053.11-17