
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali sebagai sumber bahan organik dan pupuk bagi tanaman. Pengolahan TKKS menjadi kompos dapat membantu mengurangi volume limbah sekaligus menyediakan alternatif input dalam budidaya. Penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa kompos TKKS berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman serta berpotensi digunakan bersama agen hayati seperti fungi mikoriza. Pemanfaatan ini dapat mendukung pengurangan ketergantungan pada pupuk anorganik tanpa mengesampingkan kebutuhan pemupukan berdasarkan kondisi tanaman dan tanah.
SPIRAL-Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) selama ini lebih banyak dipandang sebagai limbah dari proses pengolahan kelapa sawit. Padahal, material yang tersisa setelah buah sawit dipisahkan ini masih menyimpan bahan organik dan unsur hara yang dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan budidaya tanaman.
Salah satu pemanfaatannya adalah mengolah TKKS menjadi kompos atau pupuk organik. Cara ini menarik karena limbah dari industri sawit dapat dikembalikan ke lahan sebagai sumber bahan organik, sekaligus membantu mengurangi kebutuhan terhadap pupuk anorganik.
Penelitian Siahaan dan Hutapea (2025) dalam Jurnal Ilmiah Pertanian (JIPERTA) menguji penggunaan kompos TKKS bersama fungi mikoriza arbuskular (FMA) pada tanaman kedelai hitam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos TKKS, baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan FMA, memberikan pengaruh nyata terhadap berbagai parameter pertumbuhan dan hasil tanaman. Perlakuan terbaik diperoleh pada kombinasi kompos TKKS 600 gram per petak dengan FMA 30 gram per tanaman.
Baca Juga: Seberapa Efisien Kebun Sawit dalam Menghasilkan CPO?
Temuan tersebut menunjukkan bahwa TKKS bukan sekadar bahan sisa yang harus dibuang. Setelah melalui proses pengomposan yang tepat, material ini dapat menjadi bagian dari sistem pemupukan yang lebih sirkular. Unsur hara dan bahan organik yang terkandung di dalamnya dapat membantu memperbaiki kondisi media tanam sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman.
Penelitian lain yang diterbitkan pada Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit tahun 2025 juga menunjukkan peluang serupa. Pengolahan TKKS melalui biodelignifikasi dapat membantu mempercepat proses dekomposisi. Sisa bahan yang telah terdekomposisi kemudian berpotensi digunakan sebagai pupuk organik, dengan hasil aplikasi yang menunjukkan pertumbuhan baik pada tanaman cabai dan terong, terutama pada perlakuan dengan kandungan TKKS 75–100%.
Pemanfaatan TKKS tentu tidak berarti pupuk kimia dapat langsung ditinggalkan. Kebutuhan hara tanaman tetap harus disesuaikan dengan kondisi tanah, umur tanaman, dan target produksi. Namun, penggunaan bahan organik dari TKKS dapat menjadi salah satu cara untuk menekan ketergantungan pada input anorganik sekaligus mengembalikan sebagian unsur hara ke dalam sistem perkebunan.
Dengan demikian, pengelolaan TKKS tidak berhenti pada persoalan limbah. Jika diolah dengan teknologi yang tepat, limbah tersebut dapat kembali ke lahan sebagai sumber bahan organik dan menjadi bagian dari praktik budidaya kelapa sawit yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Referensi
Dimawarnita, F., Latisya, S., Perwitasari, U., & Faramitha, Y. (2025). Biodelignifikasi Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Aplikasinya sebagai Pupuk Organik. Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 30(2), 122–131. DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i2.214
Siahaan, J.A., & Hutapea, S. (2025). Pengaruh Aplikasi Mikoriza dan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kedelai Hitam (Glycine max L.). Jurnal Ilmiah Pertanian (JIPERTA), 7(1), 52–74. DOI: 10.31289/jiperta.v7i1.5914.