
Perkebunan kelapa sawit dapat menjadi bagian dari lanskap yang mendukung keberadaan berbagai jenis burung, terutama apabila dikelola dengan memperhatikan aspek keanekaragaman hayati. Burung memiliki peran ekologis penting dalam ekosistem, antara lain sebagai penyebar biji, penyerbuk, dan pengendali populasi serangga. Penelitian tahun 2025 di lanskap perkebunan kelapa sawit Papua mencatat 46 spesies burung dari 23 famili dan menunjukkan bahwa kawasan dengan nilai konservasi tinggi
SPIRAL-Perkebunan kelapa sawit tidak hanya menjadi area produksi minyak nabati, tetapi juga dapat menjadi bagian dari lanskap yang mendukung keberadaan berbagai jenis burung. Meskipun perkebunan sawit tidak dapat sepenuhnya menggantikan fungsi hutan alami, pengelolaan perkebunan yang memperhatikan keberadaan vegetasi alami, kawasan konservasi, dan koridor ekologis dapat menciptakan habitat yang lebih ramah bagi burung.
Penelitian Affandi, Santosa, dan Kwatrina (2025) yang dilakukan di lanskap perkebunan kelapa sawit di Papua mencatat 46 spesies burung dari 23 famili. Studi tersebut menemukan bahwa burung memiliki berbagai fungsi ekologis, seperti penyebaran biji, penyerbukan, serta pengendalian serangga. Burung pemakan serangga, misalnya, dapat membantu menekan populasi organisme yang berpotensi menjadi hama tanaman. Sementara itu, burung pemakan buah dan biji dapat berperan dalam proses regenerasi vegetasi.
Namun, tidak semua bagian perkebunan memiliki kemampuan yang sama dalam mendukung keanekaragaman burung. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kawasan dengan High Conservation Value (HCV) memiliki kekayaan spesies burung yang lebih tinggi dibandingkan area perkebunan sawit. Keberadaan vegetasi yang lebih beragam dan kedekatan dengan habitat alami menjadi faktor penting dalam menyediakan sumber makanan, tempat berlindung, serta lokasi berkembang biak.
Baca juga: Jangan Salah Beli ! 5 Cara Membedakan Bibit Kelapa Sawit Unggul dan Marihat Palsu
Karena itu, perkebunan sawit yang dikelola secara berkelanjutan dapat memberikan ruang bagi burung tanpa harus mengorbankan fungsi produksinya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain mempertahankan kawasan HCV, melindungi vegetasi di sepanjang sungai, menjaga koridor ekologis, mempertahankan pohon atau vegetasi alami yang memiliki nilai habitat, serta mengurangi penggunaan bahan kimia secara berlebihan.
Dengan pendekatan tersebut, perkebunan sawit dapat menjadi bagian dari lanskap yang lebih heterogen. Burung yang hidup di dalamnya juga bukan sekadar penghuni perkebunan, tetapi merupakan bagian dari ekosistem yang membantu menjaga keseimbangan biologis.
Referensi
Affandi, R., Santosa, Y., & Kwatrina, R. T. (2025). Diversity of diurnal birds and their ecological role in Papua’s oil palm plantation landscape, Indonesia. Biodiversitas, 26(2), 799–809. DOI: 10.13057/biodiv/d260228.