
Tanah masam pada lahan gambut dan mineral dapat menurunkan produktivitas kelapa sawit karena menghambat penyerapan hara dan pertumbuhan akar. Identifikasi dilakukan melalui analisis pH dan kondisi tanaman. Penanganannya meliputi pengapuran, pengelolaan tata air, penambahan bahan organik, dan pemupukan tepat guna untuk meningkatkan produktivitas sawit secara berkelanjutan.
SPIRAL-Produktivitas kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah. Salah satu tantangan terbesar dalam budidaya sawit di Indonesia adalah keberadaan tanah masam, baik pada lahan gambut maupun lahan mineral. Kondisi ini sering menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak optimal, penyerapan unsur hara terganggu, hingga penurunan produksi tandan buah segar (TBS).
Tanah masam umumnya memiliki pH rendah di bawah 5,5. Pada lahan gambut, tingkat keasaman biasanya dipengaruhi oleh tingginya kandungan bahan organik dan proses dekomposisi yang menghasilkan asam organik. Sementara itu, pada lahan mineral, keasaman sering muncul akibat pencucian unsur basa seperti kalsium, magnesium, dan kalium akibat curah hujan tinggi.
Ciri-ciri tanah masam dapat dikenali melalui pertumbuhan tanaman yang lambat, daun menguning, akar tidak berkembang sempurna, dan rendahnya efektivitas pupuk. Selain itu, kandungan aluminium (Al) dan besi (Fe) yang tinggi pada tanah masam dapat bersifat racun bagi tanaman sawit jika tidak ditangani dengan tepat.
Untuk mengatasi masalah ini, langkah pertama adalah melakukan analisis tanah secara berkala. Pengukuran pH tanah membantu menentukan tingkat keasaman dan kebutuhan amelioran. Salah satu solusi utama adalah aplikasi kapur dolomit atau kalsit untuk meningkatkan pH tanah dan menekan toksisitas aluminium.
Baca Juga: Mengapa Cuaca Ekstrem Bisa Menurunkan Produksi Sawit? Ini Penjelasannya
Pada lahan gambut, pengelolaan tata air menjadi faktor sangat penting. Tinggi muka air harus dijaga agar tidak terlalu kering maupun terlalu tergenang. Penggunaan pupuk berbasis fosfat, kalium, dan unsur mikro juga perlu disesuaikan dengan kondisi tanah agar efisiensi pemupukan meningkat.
Sementara pada lahan mineral masam, penambahan bahan organik seperti kompos dan tandan kosong sawit dapat membantu memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kapasitas tukar kation. Praktik konservasi tanah juga penting untuk mengurangi pencucian unsur hara.
Dengan identifikasi yang tepat dan pengelolaan yang berkelanjutan, tanah masam di lahan gambut maupun mineral tetap dapat dioptimalkan untuk mendukung produktivitas sawit yang stabil, efisien, dan berkelanjutan.


