
Curah hujan merupakan faktor iklim yang sangat menentukan keberhasilan produksi kelapa sawit. Namun, peningkatan frekuensi hujan ekstrem akibat perubahan iklim mulai menjadi tantangan serius bagi industri sawit. Hujan berintensitas tinggi dapat mengganggu aktivitas serangga penyerbuk, mengurangi transfer serbuk sari, serta menurunkan tingkat fruit set atau keberhasilan pembentukan buah.
Spiral-Kelapa sawit (Elaeis guineensis) merupakan tanaman yang sangat bergantung pada keberhasilan penyerbukan untuk menghasilkan tandan buah dengan tingkat fruit set yang tinggi. Di Indonesia, proses penyerbukan sebagian besar dibantu oleh kumbang penyerbuk Elaeidobius kamerunicus, yang berperan memindahkan serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina.
Namun, perubahan pola iklim dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan meningkatnya kejadian hujan ekstrem di berbagai sentra produksi sawit. Kondisi ini menimbulkan dampak yang tidak dapat diabaikan terhadap proses reproduksi tanaman sawit.
Penelitian terbaru di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa Elaeidobius kamerunicus memiliki aktivitas tertinggi pada pagi hari, terutama antara pukul 08.00–12.00. Aktivitas terbang dan kunjungan ke bunga sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, kemampuan kumbang untuk berpindah antar bunga menjadi berkurang sehingga proses transfer serbuk sari menjadi tidak optimal.
Selain itu, kelembapan yang terlalu tinggi akibat hujan berkepanjangan dapat menghambat pelepasan serbuk sari dari bunga jantan. Akibatnya, jumlah polen yang tersedia untuk penyerbukan berkurang dan peluang terjadinya pembuahan menjadi lebih rendah.
Baca Juga : Early Warning System di Perkebunan Sawit: Cara Deteksi Stres Tanaman Sebelum Produksi Turun
Keberhasilan pembentukan buah sawit sangat dipengaruhi oleh kualitas penyerbukan. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2026 dalam Journal of Oil Palm Research menunjukkan bahwa peningkatan efektivitas penyerbukan oleh E. kamerunicus secara langsung meningkatkan fruit set pada tandan sawit. Sebaliknya, gangguan terhadap populasi atau aktivitas kumbang penyerbuk berpotensi menurunkan jumlah buah yang terbentuk pada setiap tandan.
Karena hujan ekstrem mengurangi frekuensi kunjungan penyerbuk dan menghambat perpindahan polen, tingkat pembuahan pada bunga betina juga ikut menurun. Dampak akhirnya adalah meningkatnya jumlah buah partenokarpi (buah tanpa biji) dan berkurangnya kepadatan buah dalam tandan.
Temuan dari penelitian Popkin tahun 2024 menunjukkan bahwa curah hujan tinggi, terutama hujan ekstrem yang terjadi dua hingga lima bulan sebelum panen, berkorelasi negatif terhadap produktivitas kelapa sawit. Penelitian tersebut menemukan bahwa peningkatan kejadian hujan ekstrem menyebabkan penurunan hasil produksi karena terganggunya proses fisiologis dan reproduktif tanaman.
Hal ini menunjukkan bahwa dampak hujan ekstrem tidak hanya terjadi pada saat penyerbukan berlangsung, tetapi juga berpengaruh pada perkembangan buah hingga fase panen.
Perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan frekuensi kejadian cuaca ekstrem, termasuk hujan dengan intensitas tinggi. Kondisi ini dapat mengancam stabilitas produksi sawit, terutama pada wilayah dengan drainase kurang baik dan populasi penyerbuk yang rendah. Oleh karena itu, pengelolaan kebun yang mendukung keberadaan penyerbuk alami, konservasi habitat serangga, serta sistem drainase yang efektif menjadi strategi penting untuk menjaga produktivitas di masa depan.
Referensi
Herlinda, S., et al. (2025). Insect Pollinators of Oil Palm Plantations in South Sumatra, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity.
Prasetyo, A.E., et al. (2026). The Impact of Elaeidobius kamerunicus Faust Population Density and Sex Ratio on Oil Palm Fruit Set in Indonesia. Journal of Oil Palm Research.
Popkin, M. (2024). Oil Palm’s Sustainable Future: The influence of within-plantation management practices on yield and pollinator diversity in oil palm [Apollo - University of Cambridge Repository]. https://doi.org/10.17863/CAM.110858