
Minyak sawit memiliki potensi sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui proses pengolahan menggunakan teknologi khusus yang memenuhi standar penerbangan internasional. Pengembangan SAF berbasis sawit berpeluang mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus meningkatkan nilai tambah industri sawit Indonesia
SPIRAL-Perjalanan menuju industri penerbangan yang lebih ramah lingkungan mendorong berbagai negara mencari alternatif pengganti bahan bakar fosil. Salah satu inovasi yang kini banyak dikembangkan adalah Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Di tengah perkembangan tersebut, muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas: bisakah minyak sawit menjadi bahan bakar pesawat?
Jawabannya adalah bisa, tetapi bukan berarti minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) langsung digunakan sebagai avtur. Minyak sawit harus melalui serangkaian proses pengolahan menggunakan teknologi khusus agar memenuhi standar keselamatan dan performa yang sangat ketat dalam industri penerbangan.
SAF adalah bahan bakar penerbangan yang diproduksi dari bahan baku terbarukan, seperti minyak nabati, minyak jelantah (used cooking oil), limbah biomassa, hingga residu pertanian. Berbeda dengan avtur konvensional yang berasal dari minyak bumi, SAF dirancang untuk memiliki karakteristik yang sesuai dengan mesin pesawat sekaligus membantu menurunkan emisi gas rumah kaca berdasarkan analisis siklus hidup (Life Cycle Assessment/LCA).
Menurut International Air Transport Association (IATA), SAF diproyeksikan menjadi salah satu solusi utama untuk mendukung target net zero emissions sektor penerbangan pada tahun 2050.
Minyak sawit dapat diolah menjadi SAF melalui teknologi Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA). Pada proses ini, minyak sawit diproses menggunakan hidrogen sehingga menghasilkan hidrokarbon yang memiliki karakteristik mirip dengan bahan bakar jet berbasis fosil.
Bahan bakar yang dihasilkan kemudian harus memenuhi standar ASTM D7566, yaitu standar internasional yang mengatur spesifikasi bahan bakar penerbangan sintetis sebelum dapat digunakan pada pesawat komersial.
Indonesia merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia. Ketersediaan bahan baku dalam jumlah besar menjadi salah satu alasan mengapa sawit dinilai memiliki potensi untuk mendukung pengembangan SAF.
Selain itu, Indonesia telah memiliki pengalaman dalam pengembangan biodiesel, termasuk implementasi program B35 dan B40. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membangun rantai pasok biofuel yang lebih maju, termasuk untuk sektor penerbangan.
Pengembangan SAF juga berpotensi meningkatkan nilai tambah industri sawit melalui diversifikasi produk hilir. Dengan demikian, sawit tidak hanya dimanfaatkan untuk pangan, oleokimia, dan biodiesel, tetapi juga sebagai bahan baku energi untuk transportasi udara.
Meskipun menjanjikan, pengembangan SAF berbasis sawit masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah biaya produksi yang saat ini masih lebih tinggi dibandingkan avtur konvensional. Selain itu, bahan baku yang digunakan perlu berasal dari sumber yang dikelola secara berkelanjutan agar manfaat pengurangan emisi benar-benar dapat dicapai.
Para peneliti juga menekankan pentingnya Life Cycle Assessment (LCA) untuk mengevaluasi dampak lingkungan secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengolahan, distribusi, hingga penggunaan bahan bakar di pesawat. Pendekatan ini memastikan bahwa pengembangan SAF tidak hanya berfokus pada emisi saat pembakaran, tetapi juga mempertimbangkan seluruh rantai produksinya.
Seiring meningkatnya permintaan terhadap bahan bakar rendah emisi, SAF diperkirakan akan menjadi salah satu sektor strategis dalam pengembangan bioenergi nasional. Dengan dukungan inovasi teknologi, penelitian, serta penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang untuk berperan sebagai salah satu pemasok bahan baku maupun produsen SAF di masa depan.
Namun, keberhasilan pengembangan tersebut tetap bergantung pada peningkatan efisiensi produksi, kepatuhan terhadap standar internasional, serta penguatan aspek keberlanjutan di sepanjang rantai pasok.
Minyak sawit dapat menjadi bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF), tetapi harus melalui proses pengolahan dan memenuhi standar keselamatan penerbangan internasional. Dengan potensi bahan baku yang melimpah dan pengalaman dalam pengembangan biofuel, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan SAF sebagai bagian dari transisi menuju transportasi udara yang lebih berkelanjutan.
Referensi
ASTM International. (2024). ASTM D7566: Standard Specification for Aviation Turbine Fuel Containing Synthesized Hydrocarbons. https://www.astm.org/d7566
International Air Transport Association. (2024). Sustainable Aviation Fuel (SAF). https://www.iata.org/en/programs/environment/sustainable-aviation-fuels/
International Energy Agency. (2024). Aviation. https://www.iea.org/energy-system/transport/aviation
Mohd Noor, C. W., et al. (2026). Environmental Sustainability Assessment of Sustainable Aviation Fuel Derived from Palm Oil and Its Derivatives. Cleaner Engineering and Technology. https://doi.org/10.1016/j.clet.2026.101527