
Artikel ini membahas pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan baku biochar untuk mendukung pertanian sirkular.
SPIRAL- Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan salah satu limbah padat yang dihasilkan dalam jumlah besar dari pengolahan kelapa sawit. Alih-alih hanya menjadi sisa produksi, TKKS dapat diolah menjadi biochar.
Biochar merupakan material kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pemanasan biomassa dengan oksigen terbatas. Ketika TKKS diolah menjadi biochar, material yang dianggap sebagai limbah dapat kembali digunakan sebagai pembenah tanah.
Penelitian Maulana et al. (2025) menunjukkan potensi tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan di Indonesia, TKKS diproses melalui slow pyrolysis pada temperatur tertentu untuk melihat kualitas biochar yang dihasilkan. Hasilnya menunjukkan bahwa temperatur 200°C menghasilkan karakteristik biochar yang potensial. Ketika diaplikasikan pada tanah Inceptisol, biochar TKKS juga meningkatkan sejumlah sifat kimia tanah, termasuk pH, bahan organik, kapasitas tukar kation (CEC), serta beberapa unsur hara.
Namun, manfaat biochar tidak berhenti disitu.
Pemanfaatan TKKS sebagai biochar juga dapat dilihat sebagai bagian dari pertanian sirkular. Alih-alih membiarkan limbah keluar dari sistem produksi, biomassa tersebut dikembalikan ke dalam siklus pertanian dalam bentuk yang memiliki fungsi baru.
Ide ini diperkuat oleh penelitian berjudul "Improving the environmental performance of palm oil industry through the utilization of empty oil palm bunches as organic fertilizer and biochar for soil amendment" yang menganalisis pemanfaatan TKKS di industri kelapa sawit, menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment. Studi tersebut menunjukkan bahwa TKKS dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik maupun biochar untuk membantu memperbaiki kualitas tanah dan mengurangi kebutuhan pupuk sintetis. Dalam skenario yang dianalisis, penggunaan biochar dari TKKS berpotensi mengurangi penggunaan pupuk sintetis sekitar 34,85%.
Disini konsep pertanian sirkular menjadi salah satu outputnya. Limbah dari satu proses tidak harus berakhir sebagai sesuatu yang harus dibuang. Dengan teknologi yang tepat, limbah tersebut dapat kembali menjadi bagian dari proses produksi.
TKKS dapat bergerak dalam satu siklus: dari kebun, ke pabrik, menjadi biochar, lalu kembali ke tanah.
Pendekatan seperti ini tidak hanya tentang bagaimana mengelola limbah, tapi juga tentang bagaimana mendapatkan lebih banyak manfaat dari sumber daya yang sudah tersedia.
Biochar sawit mungkin bukan satu-satunya jawaban untuk pertanian berkelanjutan. Namun, pemanfaatannya menunjukkan bahwa masa depan pertanian sirkular dapat dimulai.
Sumber
Maulana, A., Harianti, M., Athiyya, S., Prasetyo, T. B., Monikasari, M., Darfis, I., Rezki, D., & Herviyanti. (2025). Biochar quality during slow pyrolysis from oil palm empty fruit bunches and its application as soil ameliorant. Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture, 40(1), 84–96. https://doi.org/10.20961/carakatani.v40i1.93859
Yusuf, F. R., Suprihatin, & Indrasti, N. S. (2025). Improving the environmental performance of palm oil industry through the utilization of empty oil palm bunches as organic fertilizer and biochar for soil amendment. Environmental Challenges, 20, 101185. https://doi.org/10.1016/j.envc.2025.101185
