
Sistem Integrasi Sapi–Kelapa Sawit (SISKA) menawarkan pendekatan pemanfaatan lahan yang menggabungkan perkebunan sawit dan peternakan dalam satu kawasan. Selain mendukung diversifikasi kegiatan produksi, sistem ini juga berpotensi membantu mengurangi risiko Indirect Land Use Change (ILUC). Artikel ini membahas penerapan SISKA di Kalimantan Barat serta berbagai risiko yang perlu dikelola agar integrasi sawit dan peternakan dapat berjalan secara berkelanjutan.
SPIRAL-Apa jadinya jika perkebunan sawit tidak hanya menghasilkan minyak, tapi juga menjadi ruang bagi peternakan sapi?
Ide tersebut ternyata telah dikaji oleh Nugraha dan Permatasari melalui Sistem Integrasi Sapi–Kelapa Sawit (SISKA). Konsep ini menggabungkan kegiatan peternakan dengan perkebunan kelapa sawit dalam satu kawasan. Pendekatan tersebut mampu menjadi sebagai salah satu solusi yang dapat membantu mengurangi risiko Indirect Land Use Change (ILUC).
ILUC pada dasarnya berkaitan dengan perpindahan aktivitas pertanian akibat perubahan penggunaan lahan. Ketika kebutuhan produksi meningkat atau petani kehilangan akses terhadap lahan, aktivitas pertanian dapat berpindah ke wilayah lain. Jika perpindahan tersebut mendorong pembukaan lahan baru, muncul risiko perubahan tutupan lahan secara tidak langsung.
SISKA menawarkan pendekatan yang berbeda. Daripada memisahkan kegiatan perkebunan dan peternakan, keduanya dapat dikembangkan dalam satu kawasan. Lahan yang sudah digunakan untuk sawit dapat sekaligus mendukung kegiatan pemeliharaan sapi, sehingga kebutuhan untuk mencari ruang produksi tambahan dapat ditekan.
Namun, mengintegrasikan sapi dan sawit bukan berarti tanpa tantangan.
Penelitian Nugraha dan Permatasari (2025) di Sanggau, Kalimantan Barat, melihat lebih dekat berbagai risiko dalam penerapan SISKA. Penelitian tersebut melibatkan 30 anggota dari empat klaster SISKA dan menggunakan metode House of Risk untuk mengidentifikasi sumber risiko serta menentukan strategi mitigasinya.
Hasil penelitian menunjukkan tiga sumber risiko yang perlu menjadi perhatian utama, yaitu penggunaan herbisida untuk pengendalian gulma oleh perusahaan, sapi yang masuk ke area tanaman sawit yang sedang diremajakan, serta inbreeding atau perkawinan sedarah pada ternak. Peneliti kemudian mengusulkan beberapa strategi, termasuk penggunaan pagar listrik, penerapan sistem penggembalaan bergilir, dan penyediaan pejantan unggul.
Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi sapi dan sawit bukan sekadar persoalan penempatan ternak di dalam perkebunan. Keberhasilannya butuh pengelolaan yang terencana agar produktivitas sawit, kesehatan ternak, dan kondisi perkebunan dapat berjalan bersama.
Di satu sisi, pendekatan SISKA memberi gambaran bagaimana satu ruang dapat dimanfaatkan untuk lebih dari satu kebutuhan produksi. Jika dikelola dengan baik, integrasi ini dapat menjadi salah satu bagian dari strategi pemanfaatan lahan yang lebih efisien sekaligus mendukung upaya mengurangi risiko ILUC.
Referensi
Nugraha, A., & Permatasari, N. (2025). Risk Mitigation for Cattle–Oil Palm Integration Farming (SISKA) in West Kalimantan Province. Jurnal Agrikultura, 36(2), 383–393. DOI: 10.24198/agrikultura.v36i2.62444
