
Precision agriculture mulai mengubah cara perkebunan kelapa sawit dalam mengelola lahan dan tanaman. Pendekatan ini memanfaatkan teknologi seperti image analysis, drone, sensor, remote sensing, dan artificial intelligence (AI) untuk menghasilkan informasi yang lebih detail mengenai kondisi kebun.
SPIRAL-Perkebunan kelapa sawit memiliki kondisi yang tidak selalu seragam. Dalam satu areal, kandungan bahan organik tanah, kelembapan, kesehatan tanaman, dan kebutuhan nutrisi dapat berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Di sinilah precision agriculture atau pertanian presisi menjadi semakin penting.
Precision agriculture pada kebun sawit merupakan pendekatan yang menggunakan data, sensor, pengolahan citra, remote sensing, artificial intelligence (AI), dan teknologi pemetaan untuk membantu pengelola memahami kondisi kebun secara lebih spesifik. Tujuannya adalah membuat keputusan yang lebih tepat mengenai pemupukan, pemeliharaan, pemantauan tanaman, hingga pengelolaan produktivitas.
Perkembangan ini semakin terlihat dalam penelitian terbaru. Suud et al. dalam Journal of Oil Palm Research membahas penerapan precision agriculture untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan sawit di Indonesia. Teknologi seperti remote sensing, Geographic Information System (GIS), drone, dan sensor dinilai dapat membantu mengumpulkan informasi kebun secara lebih efisien dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Baca Juga: Jamur Baik untuk Sawit? Kenali Peran Mikoriza bagi Kelapa Sawit
Salah satu contoh penerapan yang lebih spesifik ditunjukkan oleh Nila et al. (2026) dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan image analysis untuk memetakan kandungan bahan organik tanah pada perkebunan kelapa sawit. Peneliti menggabungkan foto tanaman dan lahan dengan pengukuran lapangan seperti pH, kelembapan, temperatur, total dissolved solids (TDS), dan electrical conductivity (EC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan organik memiliki variasi spasial, dengan kisaran sekitar 4,5–5,5% dan rata-rata sekitar 5%. Pemetaan berbasis citra berhasil menggambarkan variasi tersebut dan berpotensi digunakan untuk mendukung precision agriculture.
Temuan ini menunjukkan bahwa precision agriculture bukan hanya tentang penggunaan drone atau teknologi canggih. Hal yang lebih penting adalah mengubah data menjadi keputusan pengelolaan kebun. Jika suatu area memiliki karakteristik tanah yang berbeda, informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan strategi pengelolaan yang lebih sesuai.
Ke depan, integrasi AI, drone, sensor, GIS, dan remote sensing dapat membuat pemantauan perkebunan semakin cepat dan presisi. Bagi industri sawit, pendekatan ini berpotensi membantu meningkatkan efisiensi penggunaan input, menjaga kesehatan tanaman, dan mendukung produktivitas sekaligus keberlanjutan perkebunan.
Referensi
Suud, H. M., Defrian, A., Puspito, A. N., & Ginting, A. S. (2026). Precision Agriculture Implementation to Improve Sustainability and Productivity of Oil Palm Plantations in Indonesia: A Review. Journal of Oil Palm Research, 38(1), 35–52.
Nila, I. R., Rahmawati, Fahril, M. A., Anda, S. T., Putra, R. A., Fajriani, & Naziah, A. (2026). Innovative Digital Mapping of Soil Organic Matter Content in Oil Palm Using Image Analysis. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 31(2), 385–392. https://doi.org/10.18343/jipi.31.2.385.