
Penelitian di Pulau Kalimantan selama 2019–2023 menganalisis hubungan antara hotspot kebakaran hutan dan lahan dengan curah hujan, suhu udara, serta kelembapan tanah pada lahan gambut dan non-gambut. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelembapan tanah merupakan faktor meteorologis paling signifikan, diikuti curah hujan. Temuan ini mendukung pemanfaatan data meteorologis dan penginderaan jauh untuk memperkuat sistem peringatan dini serta pengelolaan gambut yang adaptif
SPIRAL-Ketika tanah mulai mengering, risiko kebakaran gambut dapat meningkat. Penelitian terbaru di Kalimantan menunjukkan bahwa kelembapan tanah dan curah hujan merupakan dua faktor meteorologis penting yang berkaitan dengan kemunculan titik panas (hotspot).
Lahan gambut memiliki kemampuan menyimpan air sekaligus mengakumulasi bahan organik dalam jumlah besar. Namun, ketika curah hujan menurun dan kelembapan tanah berkurang, lapisan organik tersebut menjadi lebih rentan terbakar. Berbeda dari kebakaran vegetasi yang hanya terjadi di permukaan, api pada gambut dapat menjalar ke lapisan bawah tanah sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan.
Persoalan ini menjadi perhatian penting di Pulau Kalimantan, salah satu wilayah Indonesia dengan kawasan gambut yang luas.
Penelitian Oktaviani dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam Majalah Geografi Indonesia pada 2026 menganalisis hubungan antara kondisi meteorologis dan jumlah hotspot di lahan gambut serta non-gambut Kalimantan selama 2019–2023.
Penelitian tersebut menggunakan data hotspot dari satelit MODIS, data curah hujan dan suhu udara dari ERA5, serta data kelembapan tanah dari SMAP. Analisis dilakukan menggunakan regresi binomial negatif untuk menilai hubungan antara variabel meteorologis dan jumlah hotspot.
Hasilnya menunjukkan bahwa kelembapan tanah merupakan faktor yang paling signifikan, diikuti curah hujan, sedangkan suhu udara pada ketinggian dua meter tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik dalam model penelitian tersebut.
Temuan ini menegaskan bahwa memahami kondisi air di dalam tanah sangat penting dalam menilai risiko kebakaran. Suhu udara yang tinggi memang dapat mempercepat pengeringan, tetapi pengaruhnya terhadap hotspot tidak selalu berdiri sendiri dan perlu dipahami bersama kondisi kelembapan serta curah hujan.
Data penelitian menunjukkan pola yang jelas pada periode kering. Ketika curah hujan menurun, jumlah hotspot cenderung meningkat, terutama pada kawasan gambut.
Pada 2019, jumlah hotspot di lahan gambut mencapai puncak selama periode pengamatan. Penelitian mencatat 4.986 hotspot di lahan gambut pada tahun tersebut, sementara jumlah keseluruhan hotspot selama 2019–2023 mencapai 6.184 titik di lahan gambut dan 4.848 titik di lahan non-gambut.
Penelitian juga menemukan bahwa banyak hotspot terjadi pada kondisi curah hujan kurang dari 100 milimeter per bulan, suhu di atas 25°C, dan kelembapan tanah pada kisaran 10–30% dalam analisis karakteristik kondisi kejadian.
Angka-angka ini membantu menggambarkan kondisi yang berkaitan dengan peningkatan risiko kebakaran. Namun, kondisi tersebut bukan ambang universal yang otomatis menyebabkan kebakaran di setiap kawasan gambut. Hasil penelitian juga tidak membuktikan bahwa faktor meteorologis merupakan satu-satunya penyebab munculnya hotspot.
Temuan penelitian ini memberikan dasar bagi pengembangan sistem peringatan dini kebakaran yang mempertimbangkan kelembapan tanah, curah hujan, dan suhu udara. Dengan menggabungkan data satelit dan pemantauan lapangan, pengelola dapat mengidentifikasi perubahan kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
Bagi pengelolaan gambut berkelanjutan, informasi tersebut dapat mendukung penentuan prioritas pemantauan, pemeliharaan tata air, dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Pengelolaan air perlu dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik hidrologi kawasan agar gambut tidak mengalami pengeringan berlebihan.
Meski demikian, pencegahan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan data cuaca. Penelitian ini tidak memasukkan faktor aktivitas manusia, pembukaan lahan, maupun kebijakan pengelolaan hutan ke dalam modelnya. Karena itu, strategi pencegahan yang efektif perlu menggabungkan informasi meteorologis dengan pengawasan aktivitas manusia dan pengelolaan lahan.
Kebakaran gambut merupakan persoalan yang melibatkan hubungan antara kondisi tanah, iklim, dan aktivitas manusia. Penelitian di Kalimantan memperlihatkan bahwa kelembapan tanah dan curah hujan merupakan indikator penting untuk memahami dinamika hotspot.
Dengan memanfaatkan pemantauan berbasis satelit, pengukuran lapangan, dan pengelolaan tata air yang adaptif, upaya pencegahan dapat diarahkan pada kawasan yang menunjukkan kondisi lebih rentan. Pendekatan ini penting untuk melindungi ekosistem gambut, mengurangi risiko kabut asap, dan mendukung pengelolaan lanskap yang lebih berkelanjutan.
Oktaviani, M. B., Nurjani, E., Suarma, U., & Sekaranom, A. B. (2026). Analisis faktor meteorologi terhadap kebakaran hutan dan lahan di Pulau Kalimantan periode 2019–2023. Majalah Geografi Indonesia, 40(1), 1–13. https://doi.org/10.22146/mgi.109314