Artikel ini membahas bagaimana model ILUC memperkirakan hubungan antara permintaan bahan baku biofuel, perubahan harga komoditas, produktivitas pertanian, dan potensi perluasan lahan.
SPIRAL-Ketika permintaan suatu komoditas pertanian meningkat, dampaknya tidak selalu berhenti pada kenaikan harga. Perubahan permintaan dapat memengaruhi keputusan petani, pola produksi, hingga penggunaan lahan di wilayah lain. Hubungan inilah yang coba dipahami melalui Indirect Land-Use Change (ILUC).
Dalam industri biofuel, misalnya, tanaman pertanian dapat digunakan sebagai bahan baku bahan bakar maupun untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pakan ternak. Ketika sebagian hasil panen dialihkan untuk produksi biofuel, persaingan dalam penggunaan komoditas tersebut dapat memengaruhi harga di pasar. Jika harga meningkat, produsen memiliki insentif untuk menambah produksi. Salah satu kemungkinannya adalah memperluas lahan pertanian.
Namun, pertanyaannya tidak sesederhana itu. Menurut laporan Indirect Land-Use Change: A Persistent Challenge for Modeling and Policy yang diterbitkan Resources for the Future pada Maret 2026, ILUC terjadi melalui respons pasar terhadap perubahan permintaan komoditas pertanian. Ketika tanaman yang sebelumnya digunakan untuk pangan atau pakan dialihkan menjadi bahan baku biofuel, perubahan harga dapat mendorong penyesuaian produksi dan penggunaan lahan di berbagai wilayah.
Ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Petani bisa meningkatkan produktivitas lahan yang sudah digunakan, mengubah jenis tanaman yang dibudidayakan, atau memperluas area pertanian. Dalam kondisi tertentu, perubahan tersebut juga dapat mendorong perpindahan aktivitas peternakan ke wilayah lain dan meningkatkan tekanan terhadap ekosistem alami.
Artinya, peningkatan permintaan biofuel tidak selalu menghasilkan pembukaan lahan baru. Dampaknya bergantung pada bagaimana pasar merespons perubahan tersebut.
Bagaimana Model ILUC Memperkirakan Dampaknya?
Karena perubahan penggunaan lahan tidak langsung dapat terjadi di berbagai wilayah dan melalui mekanisme pasar yang kompleks, peneliti menggunakan model ekonomi untuk memperkirakan konsekuensinya.
Model seperti GTAP-Bio, GLOBIOM, GCAM, dan ADAGE membantu menganalisis hubungan antara produksi pertanian, harga komoditas, perdagangan, produktivitas, dan penggunaan lahan. Setiap model memiliki struktur, cakupan sektor, serta asumsi yang berbeda.
Sebagai contoh, ketika permintaan bahan baku biofuel meningkat, model dapat memperhitungkan beberapa respons sekaligus: perubahan konsumsi pangan akibat kenaikan harga, peningkatan hasil panen, peralihan jenis tanaman, dan perluasan lahan pertanian. Seluruh respons tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan perubahan penggunaan lahan dan dampak emisinya.
Namun, hasilnya tidak selalu sama. Laporan tersebut menjelaskan bahwa estimasi ILUC sangat dipengaruhi oleh asumsi mengenai respons produktivitas terhadap harga, perubahan luas lahan pertanian, permintaan pangan, dan cadangan karbon pada lahan yang dikonversi. Karena itu, dua model dapat menghasilkan perkiraan emisi yang berbeda meskipun menganalisis jenis bahan bakar yang sama.
Mengapa Produktivitas Menjadi Faktor Penting?
Kenaikan harga komoditas tidak selalu berujung pada perluasan lahan. Jika petani mampu meningkatkan hasil panen dari lahan yang sudah tersedia, tambahan permintaan dapat dipenuhi tanpa peningkatan luas lahan yang sebanding.
Sebaliknya, jika peningkatan produksi sulit dicapai melalui intensifikasi, ekspansi lahan dapat menjadi salah satu respons yang muncul.
Di sinilah produktivitas berperan penting dalam pemodelan ILUC. Model perlu memperkirakan seberapa besar hasil panen dapat meningkat ketika harga berubah, sekaligus mempertimbangkan respons konsumen dan produsen lainnya.
Laporan Resources for the Future juga menekankan bahwa asumsi mengenai respons hasil panen terhadap perubahan harga merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi estimasi ILUC. Namun, bukti empiris belum cukup untuk menentukan satu nilai yang tepat bagi semua kondisi dan jangka waktu.
Mengapa Perkiraan ILUC Perlu Dibaca dengan Hati-hati?
Model ILUC membantu peneliti memahami kemungkinan dampak perubahan permintaan komoditas terhadap penggunaan lahan. Akan tetapi, model tersebut bukan alat untuk memastikan bahwa suatu wilayah tertentu pasti akan mengalami pembukaan lahan.
Proyeksi ILUC bergantung pada asumsi mengenai kondisi pasar, perkembangan teknologi, kebijakan, dan keputusan penggunaan lahan pada masa mendatang. Ketidakpastian ini menjadi salah satu alasan mengapa hasil pemodelan masih diperdebatkan dalam penelitian dan kebijakan biofuel.
Menurut laporan tersebut, salah satu langkah untuk memperbaiki analisis ILUC adalah menguji sensitivitas hasil model terhadap perubahan asumsi serta membandingkan proyeksi dengan data historis, seperti perubahan luas lahan pertanian, hasil panen, dan perdagangan komoditas. Pendekatan ini membantu peneliti memahami apakah hasil model konsisten dengan perubahan yang benar-benar teramati.
Pada akhirnya, kenaikan harga pangan dan perluasan lahan pertanian bukanlah hubungan sebab-akibat yang selalu terjadi. Namun, ketika permintaan biofuel mengubah keseimbangan pasar komoditas, dampaknya dapat meluas melampaui lokasi produksi bahan bakunya.
Melalui model ILUC, peneliti berupaya memahami rangkaian perubahan tersebut—bukan hanya untuk memperkirakan berapa banyak lahan yang mungkin berubah, tetapi juga untuk menilai bagaimana perubahan itu dapat memengaruhi emisi karbon dan manfaat iklim dari bahan bakar nabati.
Joiner, E., Lohawala, N., & Wibbenmeyer, M. (2026). Indirect Land-Use Change: A Persistent Challenge for Modeling and Policy. Issue Brief 26-02. Resources for the Future.
