
Industri kelapa sawit memiliki potensi besar untuk mendukung pencapaian Net Zero Emission (NZE) 2060 melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
SPIRAL-Pemerintah Indonesia menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Berbagai sektor industri dituntut untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, termasuk industri kelapa sawit yang selama ini sering menjadi sorotan karena dikaitkan dengan deforestasi dan perubahan penggunaan lahan.
Namun, apakah industri sawit hanya menjadi penyumbang emisi? Atau justru memiliki potensi besar sebagai bagian dari solusi perubahan iklim?
Penelitian terbaru yang diterbitkan pada tahun 2026 oleh Oscar Punguti, Thapat Silalertruksa , Shabbir H. Gheewala menunjukkan bahwa dengan inovasi teknologi, pengelolaan limbah, dan praktik perkebunan berkelanjutan, industri sawit memiliki peluang nyata untuk berkontribusi terhadap target dekarbonisasi nasional.
Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Selain memenuhi kebutuhan pangan, sawit juga menjadi bahan baku berbagai produk energi terbarukan, seperti biodiesel dan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Berbeda dengan bahan bakar fosil yang melepaskan karbon yang tersimpan selama jutaan tahun, biofuel berbasis sawit memanfaatkan karbon yang sebelumnya diserap tanaman melalui proses fotosintesis. Oleh karena itu, apabila diproduksi secara berkelanjutan, biofuel dapat memberikan emisi siklus hidup (life cycle emissions) yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar konvensional.
Salah satu penelitian terbaru dalam jurnal Biomass Futures mengevaluasi keberlanjutan Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang diproduksi dari minyak sawit dan turunannya menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa SAF berbasis sawit mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 23–89% dibandingkan bahan bakar jet konvensional, tergantung pada jenis bahan baku, sertifikasi keberlanjutan, sumber hidrogen, dan perubahan penggunaan lahan. Temuan ini memberikan gambaran bahwa industri sawit memiliki potensi besar untuk mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan, yang selama ini menjadi salah satu sektor paling sulit menurunkan emisi.
Temuan menarik dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa limbah industri sawit justru menghasilkan performa lingkungan terbaik. Beberapa limbah yang memiliki potensi tinggi antara lain; Palm Oil Mill Effluent (POME) dan Palm Fatty Acid Distillate (PFAD)
Karena berasal dari limbah atau produk samping, kedua bahan baku tersebut tidak lagi menanggung beban emisi dari proses budidaya. Akibatnya, jejak karbon SAF yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan minyak sawit utama. Pendekatan ini sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan limbah sebagai sumber energi bernilai tinggi daripada membuangnya ke lingkungan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa sertifikasi RSPO memberikan dampak positif terhadap performa lingkungan produksi SAF.
Perkebunan yang menerapkan standar keberlanjutan memiliki emisi lebih rendah karena; penggunaan pupuk lebih efisien, pengelolaan limbah yang lebih baik, penangkapan gas metana dari POME, praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Di Indonesia, penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) juga dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat daya saing industri sekaligus mendukung target penurunan emisi.
Selain bahan baku, penelitian menemukan bahwa sumber hidrogen yang digunakan dalam produksi SAF sangat memengaruhi jejak karbon. Penggunaan hidrogen terbarukan menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan hidrogen berbasis gas alam. Oleh karena itu, pengembangan hidrogen hijau menjadi salah satu strategi penting untuk mempercepat transisi menuju industri sawit rendah karbon.
Meskipun hasil penelitian menunjukkan prospek yang menjanjikan, pencapaian Net Zero Emission tidak dapat dilakukan tanpa mengatasi sejumlah tantangan.
Beberapa tantangan utama meliputi; tingginya investasi teknologi produksi SAF, pembangunan fasilitas penangkapan metana dari POME, kebutuhan hidrogen rendah karbon, kepatuhan terhadap standar internasional seperti CORSIA, dan pencegahan pembukaan lahan dengan stok karbon tinggi.
Dengan kata lain, keberhasilan transisi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh tata kelola perkebunan dan kebijakan yang konsisten.
Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara, yaitu ketersediaan bahan baku sawit dan limbah biomassa dalam jumlah besar. Selain minyak sawit, residu pertanian seperti tandan kosong, serat, cangkang, dan POME juga memiliki potensi besar sebagai bahan baku SAF. Kajian terbaru bahkan menunjukkan bahwa limbah pertanian Indonesia dapat mendukung produksi SAF dengan potensi pengurangan emisi hingga sekitar 94% dibandingkan bahan bakar fosil apabila memanfaatkan jalur teknologi yang tepat.
Jika potensi tersebut dikombinasikan dengan investasi teknologi, hilirisasi industri, dan praktik perkebunan berkelanjutan, Indonesia berpeluang menjadi salah satu produsen Sustainable Aviation Fuel terbesar di kawasan Asia.