Artikel ini membahas bagaimana data satelit dan pemodelan dapat membantu mengenali risiko tersebut, sekaligus menjelaskan mengapa prediksi ILUC tetap memiliki keterbatasan. Memahami risiko lebih awal dapat menjadi langkah penting untuk merencanakan ekspansi sawit tanpa mengabaikan perlindungan hutan.
SPIRAL-Perluasan perkebunan kelapa sawit tidak selalu berdampak hanya pada lahan yang dibuka. Ketika permintaan minyak sawit meningkat, perubahan produksi dan harga dapat memengaruhi keputusan penggunaan lahan di wilayah lain. Dalam kondisi tertentu, tekanan untuk membuka lahan baru pun dapat meningkat. Dampak tidak langsung inilah yang dikenal sebagai Indirect Land Use Change (ILUC).
Lantas, bisakah risiko tersebut diperkirakan sebelum ekspansi perkebunan terjadi?
Membaca Perubahan dari Satelit
Citra satelit memungkinkan peneliti memantau perubahan tutupan lahan dari waktu ke waktu. Dengan membandingkan gambar dari beberapa tahun berbeda, mereka dapat mengidentifikasi wilayah yang kehilangan tutupan hutan, melihat perkembangan perkebunan, dan memperkirakan area yang berpotensi mengalami ekspansi.
Penelitian Rafina dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Journal of Regional and Rural Development Planning pada 2026 menggunakan data perubahan tutupan lahan untuk mengkaji perkembangan perkebunan sawit di Kawasan Ekosistem Leuser. Penelitian tersebut juga memproyeksikan kemungkinan perubahan hingga 2032.
Pendekatan ini membantu mengidentifikasi wilayah yang perlu mendapat perhatian sebelum perubahan lahan terjadi. Namun, citra satelit hanya menunjukkan apa yang berubah dan di mana perubahan itu berlangsung. Untuk memahami penyebabnya, peneliti juga perlu melihat faktor lain, seperti permintaan pasar, harga komoditas, dan akses terhadap lahan.
Mengapa Dampaknya Bisa Meluas ke Wilayah Lain?
Bayangkan permintaan minyak sawit meningkat. Produsen mungkin meningkatkan hasil panen dari kebun yang sudah ada, tetapi sebagian pelaku usaha juga dapat mempertimbangkan perluasan lahan. Pada saat yang sama, perubahan harga dan persaingan antarkomoditas bisa memengaruhi keputusan petani di wilayah lain.
Jika perubahan tersebut mendorong pembukaan lahan baru di luar lokasi produksi awal, dampaknya dapat menjadi bagian dari persoalan ILUC.
Karena itu, memprediksi ILUC membutuhkan lebih dari sekadar peta perkebunan. Peneliti perlu membandingkan berbagai kemungkinan: apa yang terjadi jika permintaan meningkat, produktivitas kebun diperbaiki, atau ekspansi dibatasi melalui perlindungan hutan?
Dengan membandingkan skenario tersebut, peneliti dapat memperkirakan risiko dari setiap pilihan dan membantu pengambil kebijakan menentukan langkah yang lebih tepat.
Prediksi Bukan Jaminan
Meski teknologi satelit dan pemodelan semakin membantu, keduanya tidak dapat memastikan masa depan. Hasil prediksi bergantung pada kualitas data, asumsi yang digunakan, serta perubahan kondisi pasar dan kebijakan.
Oleh sebab itu, pemantauan perlu disertai tindakan nyata. Peningkatan produktivitas kebun yang sudah ada, perlindungan hutan dan gambut, serta perencanaan tata ruang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap lahan. Namun, efektivitasnya tetap perlu dievaluasi berdasarkan perubahan yang benar-benar terjadi.
Dengan demikian memprediksi ILUC bukan hanya memperkirakan di mana perkebunan akan berkembang. Tujuannya adalah memahami bagaimana keputusan produksi hari ini dapat memengaruhi penggunaan lahan di tempat lain. Dengan informasi yang lebih baik, risiko lingkungan dapat dipertimbangkan sebelum ekspansi dilakukan, bukan hanya setelah kerusakan terjadi.
Referensi
Managing sustainable expansion of smallholder oil palms with strategic spatial planning of land use. (2025). Journal of Land Use Science. https://doi.org/10.1080/1747423X.2025.2583927
Rafina, I., Prasetyo, L. B., & Purnomo, H. (2026). Model Spasial Deforestasi dalam Rantai Pasok Komoditas Kelapa Sawit di Kawasan Ekosistem Leuser. Journal of Regional and Rural Development Planning, 10(1), 66–83. https://doi.org/10.29244/jp2wd.2026.10.1.66-83

