
Perkebunan sawit tidak selalu harus diperluas untuk memenuhi kebutuhan produksi. Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah memanfaatkan lahan yang sudah tersedia secara lebih terintegrasi. Artikel ini membahas bagaimana berbagi akses lahan di kawasan perkebunan sawit dengan petani tanaman pangan dan peternak dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko Indirect Land Use Change (ILUC).
SPIRAL-Bisakah perkebunan sawit menghasilkan lebih banyak tanpa terus memperluas lahan?
Salah satu pendekatannya adalah memaksimalkan lahan yang sudah tersedia. Gagasan ini berkaitan dengan Indirect Land Use Change (ILUC) atau perubahan penggunaan lahan secara tidak langsung.
ILUC dapat terjadi ketika perubahan penggunaan lahan di satu wilayah mendorong perpindahan aktivitas pertanian ke wilayah lain. Dalam ekspansi sawit, misalnya, petani tanaman pangan atau peternak yang kehilangan akses terhadap lahan dapat mencari lokasi baru untuk melanjutkan produksinya. Jika lahan tersebut berasal dari hutan atau ekosistem alami, perpindahan ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.
Lantas, bagaimana jika petani dapat tetap berproduksi tanpa harus mencari lahan baru?
Penelitian Azhar et al. (2021) dalam Land Use Policy mengkaji salah satu pendekatan: berbagi akses lahan di dalam kawasan perkebunan sawit dengan petani tanaman pangan dan peternak yang terdampak oleh ekspansi perkebunan.
Pendekatan ini memungkinkan beberapa aktivitas produksi berlangsung dalam satu kawasan. Pada kebun sawit yang belum menghasilkan, ruang antarbarisan dapat dimanfaatkan untuk menanam komoditas seperti pisang, nanas, atau jagung. Pada kebun yang sudah menghasilkan, lahan juga dapat diintegrasikan dengan peternakan, termasuk pemeliharaan sapi.
Dengan demikian, satu kawasan tidak hanya menghasilkan minyak sawit, tetapi juga dapat mendukung produksi pangan dan peternakan. Bagi petani, pendekatan ini dapat menyediakan alternatif untuk mempertahankan aktivitas ekonomi tanpa harus selalu mencari lahan baru di luar kawasan perkebunan.
Dalam memperkirakan dampaknya, peneliti menggunakan pemodelan Monte Carlo. Dalam skenario yang dianalisis, model memperkirakan potensi pengurangan deforestasi terkait ILUC sekitar 10–23% di Semenanjung Malaysia dan Kalimantan.
Angka tersebut merupakan hasil pemodelan, bukan pengukuran deforestasi yang berhasil dicegah secara langsung. Meski demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan lahan yang lebih terintegrasi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi tekanan terhadap pembukaan lahan baru.
Kesimpulannya keberlanjutan sawit bukan hanya soal berapa luas lahan yang digunakan, tetapi juga seberapa optimal lahan yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan.
Referensi
Azhar, B., Nobilly, F., Lechner, A. M., Tohiran, K. A., Maxwell, T. M. R., Zulkifli, R., Kamel, M. F., & Oon, A. (2021). Mitigating the risks of indirect land use change (ILUC) related deforestation from industrial palm oil expansion by sharing land access with displaced crop and cattle farmers. Land Use Policy, 107, 105498.
